Bantuan Pemerintah ke Pemerintah
Pada pembahasan ini, kita awali
dengan pertanyaan mengapa kita harus dan setuju dengan kondisi negara kita
meminjam dana ke negara lain untuk keperluan pembangunan negara kita tapi dana
itu diberikan dengan syarat pembangunan di negara kita ini dikelola oleh negara
pemberi pinjaman?
Hal itu karena pinjaman pemerintah
ke pemerintah (goverment to goverment)
banyak keuntungan. Contohnya grace period.
Ilustrasinya, saya pinjamkan hutang satu tahun ke Anda, tetapi jalanan tidak
dibangun selama dua tahun, pada tahun ketiga maka Anda harus mencicil. Tenggang
waktu itu disebut grace period. Kita
tidak dibebani, biasanya ada tiga tahun. Hal itu tergantung pada proyek kita
kapan selesai. Jangan sampai grace period
habis tetapi pembangunan belum jadi. Kalau pembangunan jalan tol , jika
pembangunannya tidak jalan, maka tidak ada harapan untuk mampu bayar. Di
pinjaman goverment to goverment, grace period itu panjang, mampu mencapai
sepuluh hingga dua puluh tahun. Anda tidak harus bayar karena dari proyek sudah
dapat keuntungan. Kalau itu meleset, kerugian tidak signifikan. Pinjaman dapat
mencapai lima puluh tahun. Sekarang, hutang negara kita tiga puluh persen di
atas APBN. APBN kita kan dua ribu triliyun rupiah tetapi hutang negara kita
empat ribu triliyun rupiah. Jika tidak ada pembangunan maka dalam kurun waktu
dua tahun negara kita mampu melunasinya. Itulah gambaran alasan bantuan government to government.
Di beberapa kasus, negara
berkembang butuh dana untuk membuat Indonesia bertahan dari kerusuhan sosial.
Muncul pertanyaan, mengapa Timor Timur lepas? Ini terjadi karena pada era
peralihan Soeharto ke Habibie mengalami keuangan yang carut marut. Ibarat rumah
tangga, tidak cukup uang untuk keperluan rutin. Contohnya, untuk jalannya satu
instansi tetapi listrik tidak jalan, bahan bahan minyak tidak disubsidi.
Munculah demonstrasi hingga huru hara. Kondisi itu dialami di era Habibie.
Kemudian dari mana lagi memperoleh uang? Pada tahun 1997, negara kita mulai
krisis sekitar Juni, klimaksnya pada Desember. Pada bulan Nopember, Soeharto
mengumumkan ke masyarakat Indonesia bahwa dia berharap ada sumbangan warga
negara yang baik untuk pembangunan negara.
Mengapa tidak ada uang? Itu
karena krisis. Padahal uang negara kita banyak. Ibarat beras, awalnya sepuluh
ribu rupiah menjadi satu juta rupiah. Barang-barang pada saat itu menjadi
mahal. Hal itu membuat ketergantungan negara kita ke barang luar negeri. Kita
negara penghasil minyak tetapi negara kita bukan pengolah minyak ke bahan
bakar. Minyak kita diekspor ke luar negeri tetapi bensin kita impor. Itulah
kondisi keuangan kita. Habibie melihat ini agar pemerintah berjalan, maka kita
butuh bantuan orang lain. Meskipun bantuan sudah oleh IMF tetapi masih butuh
bantuan. Salah satu permintaan IMF, demokrasi Indonesia harus berlangsung. Jika
refernedum diberikan maka mendapat bantuan penuh. Ternyata itu meleset. Dulu
Timor Timur tidak punya apapun, karena tidak banyak hasil untuk Indonesia.
Sehingga untuk menarik perhatian Timor Timur maka pembangunan difokuskan ke
sana. Perkiraan itu meleset, mereka tetap ingin merdeka juga. Secara geografis,
jika tidak dekat Indonesia, maka dekat ke Australia. Apabila ada masalah dengan
Indonesia, Timor Timur adalah tempat strategis. Diharapkan, Timor Timur ada pangkalan
militer Amerika. Di Jepang, ada pangkalan militer Amerika. Ada juga di
Filipina. Itulah gambaran diberikannya bantuan karena mencegah kerusuhan.
Pada dasarnya, tidak ada orang
yang ingin mengatakanbahwa orang berikan sesuatu tanpa mengharapkan imbalan. Di
filsafat, hal itu ada, jika tidak ada hal yang diharapkan maka itu mustahil.
Jika ada kepentingan manusia, dalam pemberian bantuan uang ke negara, rata-rata
ada kepentingan ekonomi, kemudian ada kepentingan politik, lalu ada kepentingan
manusia. Kepentingan ekkonomi untuk keuntungan-keuntungan dari sisi lain. Dari
kepentingan politik, ilustrasinya, jika Saya diberikan bantuan maka dukunglah
Saya menjadi anggota PBB. Contoh lain, jika Saya berikan Anda bantuan maka
barang dagangan Saya harus masuk ke negara Anda. Tidak ada bantuan itu tanpa
imbalan. Pada saat Indonesia tsunami, Jepang memberikan hibah untuk
infrastruktur jalan terkena tsunami. Dengan syarat, hibah harus meningkatkan
kepolisian Indonesia, karena perusahaan Jepang banyak di Bekasi.
Comments
Post a Comment